#1MugBeras

Peduli Rokatenda

Jumat, 03 Januari 2014

Saya dan 'Lemari Mama'

Dari dua hari lalu cerita kebodohan saya berkisar pada umur sebelum sekolah,
nah kali ini saya akan bercerita tentang kebodohan saya yang paling absurd lainnya dengan subyek 'Lemari Mama'

Jadi sekiranya ini cerita kelas 3 atau 4 SD begitu..
saya sudah tercipta dari kecil untuk membenci Matematika. sangat!
terakhir waktu Lulus SMA. nilai dari Matematika sangat jauh beda dengan Bahasa Inggris dan pelajaran Antropologi saya.
Bayangkan pemirsaahh nilai 8 dan 7 itu jatuh seketika dengan adanya nilai 3 karna matematika. 
*ini malu sumpah*

So,
dari cerita ini saya menegaskan bahwa Matematika itu sesuatu yang sangat FINE buat saya!
Freak, Insecure, Nervous and Emotional.

Hari itu saya bangun lebih pagi dari semua orang di rumah,
Mama dan Bapa sudah memisahkan tempat tidur kami berlima, karna adik saya Prilly sudah lahir.
Angel, Saya dan Prilly tidur di ruang tengah, dan Ka Rhein dan Bill sudah tidur di kamar depan.
di kamar kami, ada sebuah Lemari Tua. mungkin milik Opa saya.
bentuknya mirip seperti Lemari di Film ' Narnia'. tempat sempurna untuk bersembunyi. karena di dalam Lemari itu isinya tidak lagi baju, tetapi hanya ada buku -buku Tua dan Buku Rapat milik Bapa yang dibawa dari kantornya dan saya jadikan kanvas untuk menulis cerita dan menggambar. :)
Dari malam sebelumnya saya sudah berencana bersembunyi di sana, karna pelajaran Matematika hari ini akan membosankan sama seperti biasanya. pikir saya. 

Bangun,
Masuk ke dalam Lemari dan beralaskan dengan Kain Tenun yang menyelimuti saya,
saya bersembunyi dari semua hiruk pikuk pagi hari di rumah yang bersiap untuk ke sekolah.
dan tidak tau kenapa, Mama dan saudara- saudara saya tidak menyadari saya di dalam Lemari.
'Alamak!!'

Saya juga karna nyaman di dalam Lemari, terus tertidur dan tidak bangun -bangun.
Pulang dari Sekolah, Jalani semua dengan biasanya. Mama juga tidak sadar teruuus kalau anaknya yang satu ini ada hilang ketelan lemari.

dari cerita Mama dan saudara- saudari saya yang saya dengar. 
mereka mencari saya sampai di rumah Oma, dan teman -teman bermain saya di sekitar rumah.
Ya ampuun..
padahal saya di dalam rumah looh, saya di dalam rumah Mama. saya di dalam lemari mama yang penuh dengan buku itu.

dan setelah mau malam,
ketika semua orang pergi ke segala penjuru tetangga dan teman-teman saya menanyakan Dimana keberadaan saya,  saya malah dengan antengnya keluar dari Lemari Mama dan makan.
Bayangkan Pemirsah!! Saya ngga kuatir sama sekolah dan pelajaran Matematika. saya lapar pemirsahhh !!
Saya bangun hanya untuk makan. :) *Hahahhaaha
kebetulan rumah juga kosong. saya bertanya -tanya dalam hati, apa mereka pergi makan Bakso di 'Sopoyono' tanpa ngajak -ngajak saya?? Awasss saja mereka!!

Setelah makan dan marah -marah tidak jelas karna ditinggal sama Keluarga, saya ke kamar mandi.
Pada waktu saya mandi itu. Mama dan kakak - kakak saya datang karna kecapean dan diselimuti kuatir.
ada apa gerangan nih? 'pikir saya
kok pulang -pulang dari makan Bakso mereka menangis.
kenapa? Oh My God kenapa?? ' pikir saya lagi

Keluar dari kamar mandi, dengan handuk di badan saya keluar.
datag ke ruang tivi dimana semua orang berkumpul. Mama mukanya letih banget gituu..
saya jadi kasihan. tapi dengan perasaan tidak bersalah saya bertanya.

" Mama Kenapa?"

Semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke saya dan mukanya meringis.
entah kenapa seperti ingin menelan saya bulat -bulat.

" ADUH CICI !! KAU DARI MANA SAJA ? " Mama teriak dengan kencangnya.
" Saya baru abis mandi ma, kenapa? " sumpah saya nyantai banget jawabnya Pemirsah !

" KAMI DARI TADI CARI KAU EEEE.. "
" Loh kok cari saya? saya tidak keluar rumah dari tadi." jawab saya lagi.
" Kau dimana dari tadi ee " Mama tanya dengan serius.

Saya tertawa dan tersenyum penuh rasa tidak bersalah,
'' Saya di dalam lemari mama dari tadi pagi, saya tidak mau sekolah.
saya takut ikut ulangan matematika"

Mama dan Kakak - Kakak saya diam mendengar jawaban saya.
Setelah itu, tebaklah sendiri bagaimana mama saya mengajari saya untuk tidak membuat orang tua kuatir dengan cara orang timur.
saya dipukul dengan selang pemirsah.
selang sih tidak apa, tapi saya baru mandi. otot- otot saya baru saja dirileksisasikan. *apaini*
jadi rasa sakitnya lebih dahsyat !!  badan jadi merah -merah.
Mamanya marah -marah. Rhein dan Angel hanya bisa melihat dari jauh dan tidak bisa menolong banyak.

tapi,
selalu ada tapi.
Bapak pulang dari Kantor dan bertanya dimana anak kesayangannya.* nunjuk diri sendiri*
Mama dan Angel menjelaskan apa yang terjadi. Bapa tidak marah. sungguh Bapa tidak marah.
malahan, Bapa mendatangi saya yang bersembunyi kembali dari kekejaman Mama di Lemari.
Bapa mengendong saya ke ruang tamu dan menenangkan saya.
Bapa membuat saya perasaan saya lebih baik dengan menceritakan kisah dongen tradisional
' Ia , Meja dan Wongge'

Bapa menjelaskan,
kalau itu tidak baik. tidak akan pernah baik jika kita menghindari apa yang menjadi ketakutan kita.
kalau kamu takut, yah kamu harus tantang balik.
itulah sebabnya. saya selalu Berani.
I'am a Fearless person. :)

Tapi,
dasar sayanya juga nakal.
sampai sekarang Matematika masih jadi musuh terbesar.
kalau ada pelajaran yang ngga enak. saya ngga mau sekolah.
titik!
ngga pake koma. :)

Dan,
setelah SMP. Lemari itu roboh. rusak!
dan saya punya tempat baru kalau mau bolos.
rumah Sari teman saya, atau tidak saya sepanjang jam di Perpustakaan Daerah di Dekat Sekolah SMP saya.

#Day3
#30HariCeritaKebodohanMasaKecil


#SalamHatersofMath
#SalamPecintaLemari

Caramel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar