Saya bercerita tentang Rona- Rona.
mungkin ada yang brtanya Rona- ROna itu apa,
ketahuilah Rona- Rona itu yang kita sebut Pasar Malam. Pasar Malam di Ende yang disebut Rona -Rona mungkin karna cahaya dari Permainan- permainan disana.
Kami semua *tunjuk semua orang di ND*
menyatakan kalau yang namanya Rona - Rona itu adalah berkah besar. karna di Ende jarang sekali ada hiburan seperti Rona -Rona.
saya suka Rona -Rona yang musiman ini.
datangnya cuma sekali setahun dengan durasi untuk tinggalnya hanya satu atau dua minggu.
atau yang paling parah cuma 3 atau 4 hari.
kalau ada yang begitu. Orang Tua ngajaknya tidak lain tidak bukan.
yang kecil doang. itu Bill, Saya dan Prilly .kadang kalau yang besar ikut kayak ka Angel dan Ka Rhein.
mereka dikasih batasan main apa. jangan ngebuang -buang uang orang tua.
tapi kalau yang kecil mau apa aja boleh. * I miss that time*
waktu itu semua anggota keluarga ikut.
kelas berapa aku lupa. tapi udah agak lebay dan lebih cerewet.
mau yang enak -enak saja.
semua anggota keluarga masuk, saya dan Angel dan Rhein jalan sendiri karna Rhein ada rencana mau naik
kincir angin atau apalah namanya. pokoknya yang berputar -putar itu.
saya juga suka kesana. tapi kalau dipikir -pikir itu agak gila.
saya ngga suka. saya tidak suka tinggi. *Itu dulu*
tapi kata ka Rhein, kalau pulang baru naik itu. supaya ada kenangan untuk dikenang.
saya dan Angel setuju,
kami ke arena yang berputar -putar dengan bantuan manusia itu looh.
ya sudah saya ikut saja. dan lucky me! sebelah saya ada kakak ganteng yang
mukanya seperti orang bandung. berkacamata dan tertawa ringan. Ganteng! Manis!
setelah menunggu semua tempat terisi di Arena itu. Mas -mas tadi langsung saja memutarkan permainannya.
dan violla, tanpa tenaga mesin. mereka berputar mengitari kami. kesana kemari tidak berhenti.
awalnya sih pelan pelan saja. tapi what the Hell,
beberapa saat kemudian semuanya bergerak cepat sekali. tidak tertahankan rasa menyenangkannya.
saya tidak tau. entah kenapa.
tapi melihat semua anak gadis yang ikut arena itu ketakutan saya berteriak -teriak alay mengikuti mereka.
dan terjadilah.
ENG ING ENG Pemirsah..
Kakak cowok yang ada di sebelah saya itu memegang tangan saya.
dingin tanganya pemirsah. saya ingin tertawa. saya ingin tau kenapa tangannya bisa sedingin itu.
dia berbalik ke arah saya dan tersenyum lagi. kali ini tidak manis. lebih menjurus ke arah menguatkan diri sendiri. dia kok pegang tangan saya?
" Tenang ade, ada Kakak"
Dia berucap pelan. saya sendiri tersenyum.
yah terima kasih kaka. saya tau ada kaka. kalau kaka jatuh. saya tidak ada buat kaka.
:P
Turun dari Arena itu, saya jadi ragu untuk main di arena yang lain.
Angel juga malas. Rhein akhirnya mengikuti kami untuk tidak ikut main dan ikut bergabung dengan Bapa dan Mama.
setelah sekian lama hanya melihat Prilly dan Bill yang merajai arena.
kami ingin memutuskan pulang. tapi karna janji Rhein tadi untuk mencoba Kincir Angin sebelum pulang.
kami mendatangi arena Kincir Angin. disana sudah banak yang antri.
ada yang pasangan, ada yang kakak adek, ada yang sendirian.
kasihan..
tapi, dari antrian itu saya ketemu lagi dengan kakak yang tadi.
Alamak.. ogah ogah ketemu dia !!
saya berdoa dalam hati untuk tidak ketemu dia. dan syukur Tuhan. dia tidak menyadari ada saya disitu.
naik ke dalam kurungan kincir angin itu, bersama Angel dan salah satu orang untuk membuat keseimbangan dalam kurungan, dan kakak itu ada di depan kami. Syukur Puji Tuhan. :)
Kincir Angin bergerak pelan, beberapa kali terhenti karena menurunkan pengunjung.
nice. :) kurungan itu bergoyang ke sana -kemari. sebentar lagi jatuh. begitu pikir saya.
saya pun memberanikan diri untuk duduk di dengan jendela kurungan. ingin melihat Kakak itu, bagaimana reaksinya. *senyumjahat*
dan benarlah pemirsah! Kaka itu ketakutan setengah mati. wajahnya pucat pasi sudah seperti Kurungan itu mau jath saja.
Hey you! Be Brave!
dan saya hanya tertawa dalam hati melihat kejadian itu.
beberapa kali Kincir angin berhenti reaksinya tetap sama.
dan untungnya dia turun duluan,
dia turun duluan dan berpegangan pada pagar antri.
saya melihatnya dengan jelas dia sudah kehilangan tulang dan nyawanya.
tepat di dekat tempat beli karcis Kakak itu berhenti. dan benar pemirsah!
dia Muntah!
saya tidak tahan lagi, saya tertawa dan rasanya ingin menertawakan kebodohannya itu.
betul -betul cemen dia jadi laki -laki.
saya saja lebih berani.
keluar dari kurungan kincir angin, saya mendatangi tempat kerumunan yang melihat aksi muntah kakak itu.
saya mengambil permen Relaxa daan mengenggamnya erat di tangan saya.
datang dan menatap wajah kakak itu. menggenggam tangannya dan berkata pelan.
" Tenang Kakak. ada saya" dan saya melepaskan permen relaxa itu dan pergi.
Angel dan Rhein yang melihat memarahi saya karna sok akrab dengan orang yang tidak dikenal.
dan kami kembali pulang ke Bapa dan Mama dan pulang jalan kaki dari Tempat Rona -Rona dan berbincang sepanjang jalan.
saya juga bercerita ke Bapa tentang Kakak cowok itu. Bapa hanya tertawa dan memeluk saya.
Anak alay seperti saya memang tidak boleh berjauhan dari orang tua.
kalau iya psti kacau jadinya, Haha
setelah itu,
saya selalu berharap kalau ke Rona - Rona ketemu lagi dengan kakak itu.
tapi sampai sekarang tidak bisa. dan tidak ketemu.
karna Rona-Rona nya sendiri sudah tidak pernah ketemu.
Source Here !!
#Day4
#30HariCeritaKebodohanMasaKecil
#SALAMPEMBERANI
Caramel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar