Cerita kali ini balik lagi ke masa saya sebelum sekolah.
sebelum pindah dari Rumah yang sekarang. Rumah yang akhirnya tidak pindah -pindah lagi sama Bapa dan Mama.
Di Rumah yang lama. kami punya peliharaan seekor anjing.
yang kami beri nama Ping Pong. waktu itu kami beri nama PingPong karena tidak punya ide untuk menamakan Paris atau Ganteng. Haha.
option nama pun hanya berkisar dengan Ping Pong, Coklat atau Bleki. tapi karna Ping Pong warnanya tidak jelas. belang -belang begitu kami beri nama Ping Pong. *tidaknyambung.
Rumah lama itu tidak banyak ruangnya. cuma ada 6 Ruangan.
2 Kamar tidur, 1 Ruang Tamu, satu ruang Keluarga, Dapur dan Kamar Mandi.
Kamar untuk Ping Pong itu ada di luar. biarkan saja si Ping Pong menggongong pada setan -setan yang lewat.
Semua orang sayang dengan Ping Pong termasuk saya. saya bahkan senang bermain dengan Ping Pong kalau Ka Rhein dan Ka Angel ke sekolah. teman -teman waktu kecil tidak terlalu asyik karena kerjanya main dan menangis. saya kan ngga suka menangis. karna dada saya akan sesak kalau menangis. itu sakit.
jadi saya kadang hanya bisa bermain dengan Ping Pong dan melihat yang lain senang bermain dengan Peralatan Masak - masak dan tidak ikut bergabung.
Siang itu, pulang dari Main 'Hide and Seek' dengan Dessy dan Marni sepupu saya. juga dengan anak -anak kompleks. saya langsung mandi dan mendatangi Ping Pong.
Ping Pong saya goda, tapi anehnya dia menyalak. saya memanggil Mama, dan mengatakan sesuatu yang aneh terjadi dengan Ping Pong.
" Mama, Ping Pong."
Mama datang dari dapur dan memperhatikan Ping Pong.
Mama menyadari sesuatu dan berteriak keras. Mama bilang kaki Ping Pong Patah. dan sepertinya dari semalam. karna dari tadi pagi Ping Pong tidak beranjak dari tempatnya di sudut ruang keluarga.
Saya ingin berlari dan memeluk Ping Pong. Mama menahan saya dan mengatakan kalau Anjing sejinak apapun, kalau sedang sakit apalagi seperti Ping Pong yang patah kaki. Pasti akan jadi Ganas.
saya menangis terus sepanjang hari melihat dari pintu ruang keluarga memperhatikan Ping Pong.
Peliharaan yang paling saya sayang. teman terbaik kalau tidak mood keluar rumah kakinya patah.
saya ngga ada lagi temannya dong.
beberapa jam berselang Kakak saya berdua pulang dari sekolah dan ketika saya memberitahu apa yang terjadi. mereka juga sedih. saya juga tidak tahan menangis. sorenya ketika Bapa pulang dari Kantor, saya berteriak ke Bapa bahwa Ping Pong sakit. kakinya patah. dan dari teriakan saya itu saya berharap kalau bapa bisa membantu menyembuhkan Ping Pong.
Bapa hanya diam dan geleng -geleng kepala, berganti baju dan keluar dari rumah.
setelah menunggu lama Bapa datang membawa 2 orang Om. saya lupa siapa. mereka menyeret Ping Pong keluar, dan memukulnya dengan linggis.
saya dan Ka Angel hanya bisa menangis melihat semuanya di balik jendela kamar Bapa dan Mama.
demi Tuhan itu keji sekali.
Ping Pong yang selama ini saya peluk -peluk dan saya ajak curhat *anak kecil sudah tau curhat??*
sekarang di pukul sama Om - Om yang saya tidak kenal. Bapa sendiri tidak ikut ambil bagian dalam memukul Ping Pong. mungkin Bapa juga sayang dengan Ping Pong seperti kami.
setelah Ping Pong tidak bergerak lagi, dan matanya sudah tidak ada sinar yang seperti yang saya lihat biasanya. saya tau rencananya Bapa setelah ini. RW!
Ping Pong akan dijadikan RW. Salah satu makanan yang terbuat dari daging anjing dengan campuran rempah - rempah. teman sempurna dari Moke *arak nira* dan Ubi Nuabosi yang direbus serta Rumpu Rampe.
Jasad Ping Pong diikat di Pohon Mangga kami, dan dilumuri dengan minyak tanah dan dibakar.
saya masih tidak percaya. tapi tubuh Ping Pong sudah penuh dengan api. saya cuma bisa terus menyeka air mata saya dan berharap Bapa akan membelikan saya Anjing peliharaan baru besoknya.
Bapa meninggalkan tempat bakarnya Ping Pong dan datang ke saya.
" Ci, nanti kita makan RW dari Ping Pong punya badan ee."
Saya melihat Bapa dan berkata pelan.
" Ci tidak mau makan Ping Pong. Ci tidak mau jadi jahat"
Bapa tertawa dan hanya terus tersenyum. dan meninggalkan saya. saya tidak ingin lihat apa yang terjadi selanjutnya. saya ke dalam kamar dan tertidur. dan ingin tahu apa yang terjadi jika saya terbangun nanti.
Beberapa Jam kemudian,
sepertinya sudah tengah malam. saya bangun dan rumah saya masih rame.
Bapa dan teman -temannya datang dan minum moke dan membentuk lingkaran.
saya tidak terlalu berpikir apa yang terjadi dan mungkin lupa dengan kejadian sepanjang hari sebelum saya tertidur.
masih dengan kebiasaan buruk. bangun tidur saya jarang sekali langsung mandi seperti lagu anak -anak itu.
saya malah datang ke dapur dan mengambil nasi dan disana ada RW.
wah, dalam pikiran saya Bapa pasti punya banyak duit sampai bisa beli RW.
saya mengambil beberapa potong RW, karena rasa pedisnya cukup untuk nasi segunung.
dari dapur saya mendatangi Bapa dan melihat apa yang dibicarakan oleh bapak -bapak itu sambil menyantap makanan saya.
selesai makan, saya menjilati tulang -tulang dari masakan RW itu, karna rasanya yang memang sedap.
bapa datang ke arah saya dan bertanya.
" Tadi ci bilang tir mau makan RW."
" Enak juga, Kenapa ci harus tolak?"
" Itu Ping Pong tuh yang ci makan. " Bapa mengoda saya.
What?
saya makan Ping Pong?
ditangan saya sekarang ada potongan daging dari peliharaan paling kece saya?
Oh My God.
" Heh, " saya bingung.
" Iya tuh. Itu Ping Pong."
saya hanya melihat sekali lagi ke arah piring. semuanya ludes tidak tersisa.
nasi, rumpu rampe dan RWnya juga.
saya menikmati sekali makanan ini. saya kanibal.
haha.
saya lalu berkata pada Bapa saya dengan santainya sekali lagi.
" Enak juga dagingnya Ping Pong"
Bapa tertawa. saya juga. tapi setelah itu keselek. Haha.
setelah kejadian itu, saya puny banyak peliharaan lainnya yang kalau ketika disiksa sebelum dimasak
selalu saya katakan tidak ingin saya santap. tetapi setelah jadi. saya jadi yang paling duluan untuk makannya.
anjing terakhir peliarahan saya itu namanya ' Kenzo'
dan sama. saya sayang dengan dengannya. tapi kalau soal makan saya juga paling duluan. :)
Ini foto Kenzo dengan saya. Narsis!
#Day5
#30HariCeritaKebodohanMasaKecil
#SalamTukangMakan
#SalamPecintaBinatang
Caramel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar